8 Mei adalah hari istimewa bagiku. Genap 40 tahun usiaku kini. Kata orang usia 40 tahun itu adalah usia dewasa seutuhnya. 40 tahun pula sering dijadikan momentum sebuah aktualisasi sebuah kematangan emosional, psikologis, dan spiritual. Aku pun jadi mulai mentafakuri makna usiaku kini yang sudah kepala empat. Secara kultural, saat seseorang berulang tahun, semua teman dan kerabat mengucapkan selamat hari lahir sambil memberikan doa-doa terbaiknya. Tak ada yang salah dengan budaya itu, bahkan sebuah tradisi yang baik jika semua orang senantiasa mendoakan dalam kebaikan. Namun, kadangkala kita terjebak dalam euforia dan selebrasi perayaannya. Aku tak mau lagi terjebak didalamnya. Karena ada sejuta makna yang harus digali dan direnungi di balik peristiwa bersejarah setiap individu ini. Tak terkecuali untuk diriku. Secara pribadi, sebetulnya aku sudah mulai meninggalkan tradisi perayaan ultah ala anak-anak bocil itu. Aku mulai belajar menggali hikmah di balik pertambahan usia, yang hakikatnya adalah berkurangnya jatah umur di dunia.
Entah berapa tahun lagi jatah hidupku di dunia fana ini. Semua itu rahasiaMu. Namun, aku tak boleh pasrah dan diam saja menunggu ajal datang. Aku harus bergerak terus berbuat yang terbaik untuk dunia dan akhiratku sambil terus memegang tali agamaMu, Yaa Rabb agar aku tak tersesat. Sampaikan sholawat dan salam rindu yang tak terperi untuk uswatun hasanah sumber inspirasi yang abadi sepanjang zaman, baginda Rasulullah SAW.
Mengingat-ingat tentang usia 40 tahun yang monumental, aku jadi penasaran apa filosofi di balik angka istimewa itu. Kucoba googling mencari hikmah usia 40 tahun lalu muncul alamat ini https://www.republika.co.id/berita/qhxx2p366/dewasa-secara-kafah-hikmah-usia-40-tahun. Sungguh luar biasa, ada ilmu baru yang kudapat bahwa katanya ada sebuah ayat dalam Quran yang berbicara tentangnya :
" Sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al-Ahqoof [46]: 15)."
Memang menarik untuk mencari jawaban kenapa usia empat puluh disebutkan eksplisit dalam ayat tersebut. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya tentang ayat tersebut menerangkan bahwa biasanya seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai usia 40 tahun. Ketika seseorang berada dalam usia 40 tahun maka sempurnalah akal, pemahaman, dan pengendalian dirinya.
Waw! Masya Allah! Saat aku membaca hal ini, lengkap sudah informasi yang kudapat seolah menegaskan anggapan kebanyakan tentang usia 40 tahun. Setidaknya, artikel ini bisa menguatkan dan memotivasi diri untuk semoga aku bisa istiqomah di jalan yang lurus ini...Aamiin Yaa Rabbal Alamiin. Ibarat pohon yang semakin tinggi, semakin kencang pula anginnya, pastilah tantangan yang dihadapi akan semakin banyak dan kompleks di usiaku kini. Namun, aku akan selalu memohon petunjuk dan pertolonganMu, Rabbi untuk memudahkan aku menjalani semuanya.
Dengan demikian salah satu hikmah dari usia 40 tahun adalah momentum untuk penegasan visi hidup dengan kematangan spiritual, emosional, dan intelektual.
Ada banyak mimpi dan target yang ingin kukejar saat ini. Sudah ada separuh perjalanan yang pernah kutempuh sebelumnya. Semoga pengalaman hari kemarin cukup membekaliku untuk tidak lagi menjadi keledai bodoh yang sering mengulang-ulang kesalahan yang sama. Hari-hari kemarin memang telah menjadi sejarah dari kisah hidup yang dijalani seperti layaknya seorang pengendara motor yang sesekali memandangi kaca spion untuk melihat ke belakang agar bisa lebih hati-hati dalam berkendara karena jalan insya Allah masih panjang. Masih banyak ayat-ayat cintaNya yang tersebar di muka bumi yang harus digali dan dimaknai untuk bekal hidup yang abadi kelak. Karuniakanlah selalu taufik dan hidayahMu pada kami semua Yaa Rahman Yaa Rahiim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar